Fida

Tahun terakhir di SMA dan saya begitu khawatir dengan masa depan. Sempat terpikir untuk melamar menjadi loper koran setelah lulus, namun beberapa kali dihinggapi ide mengikuti ujian masuk STAN karena diimingi jaminan kesejahteraan setelah lulus. Ekonomi keluarga saya sedang kacau pada waktu itu.

Di tengah tekanan dari masa depan, munculah cinta baru ke permukaan. Dialah cewek sok cantik yang wangi parfumnya begitu menyengat sampai-sampai tercium oleh saya yang duduk paling belakang di ujung sebelah kanan kelas XII IPA 4. Kami hanya terpisah 2 meja. Saking terganggunya dengan wangi parfumnya, saya menjuluki 2 sekat yang menghimpit mejanya sebagai “Jalur Gazza”.

Suaranya lemah lembut dan parasnya lumayan. Awalnya terganggu, lama-lama jadi kerasan. Saya jadi sering mencuri pandang menyaksikan dia bersenda gurau dengan teman-temannya. Manis sekali ketika dia tertawa lepas.

Tahun 2010, Raisa masih belum terkenal seperti sekarang. Kira-kira wajahnya agak mirip Raisa yang sedang sakit tifus. Masih enak dilihat, namun tidak begitu memikat.

Terus terang, saya enggan mendekatinya karena banyak cowok-cowok udik yang jatuh hati padanya. Bagi saya, bersaing untuk memperebutkan perempuan seperti dia hanya akan meninggalkan selera buruk di mulut.

Akhirnya, saya memberitahu perasaan saya kepada teman saya yang juga temannya yang saya yakin telah membocorkannya begitu saja. Sepertinya Fida sudah tahu perasaan saya dan mengejek saya dalam hati.

“Ih, najis!”, begitu katanya dalam hati.