Yu Aoi

Cantik sekali.

Adegan di film Tokyo! saat dia menatap pemeran utama dengan penuh kebingungan sambil pelan-pelan hilang menuju ketiadaan.

Ya Nabi, izinkan hamba berzina!

Bagi saya, kecantikan Yu Aoi setara dengan 100 model Victoria’s Secret. Kenapa dia begitu sempurna di mata saya dan menjadi wanita paling cantik di bumi versi saya?

Saya punya teori:

“Kriteria adalah hasil endapan dari pengalaman seksual yang ditangkap panca indra ketika balita. Boleh jadi, wajah perempuan-perempuan yang kita anggap cantik pernah kita temui di masa lalu dan tersimpan di brankas paling nista di bank memori sebagai tolak ukur untuk menentukan cantik jeleknya perempuan yang kita temui. Wajah guru TK kita yang baik hati, teman-teman masa kecil kita, bibi-bibi kita, sepupu-sepupu kita, kakak-kakak perempuan kita, bahkan ibu kita sendiri, atau gadis seksi yang tidak sengaja kita lihat ketika ayah kita sedang asyik menonton film porno.”

Yu Aoi bagi saya adalah bukti nyata dari teori di atas.

Dia adalah zenit. Titik tertinggi di mana semua perempuan yang saya suka diukur derajat kecantikannya. Titik nadirnya tentu saja adalah Bu Tina. Guru SD saya yang gendut, bangsat, dan jelek.

Jemarinya yang lentik dan bersih mirip sekali dengan jemari kakak sepupu saya berinisial “W”. Guru agama saya pernah bilang kalau ketertarikan seksual kepada sepupu perempuan itu diperbolehkan dalam Islam. Halal untuk dinikahi tapi dengan risiko anak-anak hasil perkawinan mengidap epilepsi.

Kontur wajahnya sepertinya pernah saya lihat di film Godzilla versi Jepang atau Ultraman yang saya tonton ketika umur 4 tahun. Anggap saja demikian karena bisa dibilang Yu Aoi punya wajah khas wanita Jepang pada umumnya.

Tubuhnya langsing dan payudaranya tipis. Hampir semua anggota keluarga saya kurus kering, jadi saya memaklumi kecenderungan saya pada perempuan cantik malnutrisi.

Kulitnya putih langsat tanpa cacat. Kecenderungan ini bisa jadi karena telah terkondisikan budaya di mana perempuan berkulit putih akan selalu dianggap cantik oleh pribumi. Bisa dibilang salah satu contoh mentalitas inlander warisan kompeni.

Dari bukti-bukti metafisis di atas, saya berhasil memformulasikan sistem metrik untuk menakar derajat kecantikan perempuan-perempuan yang saya suka. Satuan metafisis ini saya lambangkan sebagai Yu. Sebagai contoh, kecantikan Raisa bagi saya hanya 0.0001 Yu dan Isyana 0.0025 Yu. Bu Tina guru SD saya yang gendut, bangsat, dan jelek tentu saja 0 Yu.

Demikian pembahasan saya tentang Yu Aoi. Dia adalah hasil sintesis dari pengalaman seksual saya di masa kecil. Masih belum tergantikan sejauh ini.

Baiklah! Setelah menguap bosan sepanjang paragraf, mari kita setel musik dan dendangkan sepenggal lirik di bawah:

“I see her face. Everyday! I see her face… It doesn’t help me… She is so high! She is so high! She is so high! I want to crawl all over her!” (Blur – She Is So High)

Berengsek, kamu manis sekali!
Tolong berhenti menatap saya seperti itu, bangsat!
loading