Thomas Muller

Jenius!

Layaknya tim sepak bola, peran saya di lingkungan profesional hampir sama dengan Thomas Muller di timnas Jerman dan Bayern Munchen. Muller tidak cukup tajam sebagai penyerang, tidak terlalu kreatif sebagai gelandang tengah, tidak terlalu eksplosif sebagai pemain sayap, tidak cukup tangguh sebagai pemain belakang dan hampir tidak mungkin menjadi kiper. Saat ditanya wartawan tentang posisinya di lapangan, dia menyebut dirinya “Raumdeuter” yang jika diterjemahkan secara bebas berarti “penafsir ruang”.

Gaya permainan Muller tidak elegan dan membosankan. Saat ditekan bek lawan, dia lebih memilih mengumpan ke teman terdekat dan berlari mencari ruang kosong untuk menerima umpan matang dari rekannya yang lebih lihai menggiring bola. Dia seolah membuat ruang dan menjadikan dirinya leluasa menjebloskan bola ke gawang tanpa penjagaan ketat. Gaya permainannya seperti Inzaghi, hanya saja berkeliaran di sayap kanan atau di belakang penyerang utama. Inzaghi, David Beckham, dan Muller adalah contoh pemain rata-rata yang memiliki keahlian unik yang sangat sulit untuk diduplikasi. Keahlian itulah yang disebut “career capital” menurut Cal Newport dalam bukunya So Good They Canʼt Ignore You.

Saya sudah selesai membaca So Good They Can’t Ignore You dan merasa belum mampu mengejawantahkan isinya dengan baik. Saya adalah orang yang sangat biasa. Semua bidang yang saya tekuni berakhir terbengkalai. Kemampuan saya di pekerjaan juga sangat rata-rata. Mudah sekali menemukan orang dengan kompetensi yang sama. Bukan keputusan yang sulit bagi perusahaan tempat saya bekerja sekarang untuk mengganti saya kapan saja. Ini sudah menjadi PR saya sejak lama.

Belakangan, saya tergoda berbagai macam hal. Mulai dari menulis novel grafis sampai menjadi “quant“. Saya sempat berpikir untuk berhenti dan secara paripurna mengikuti hasrat yang menggebu-gebu tapi menurut Cal Newport itu sangat keliru. Mengikuti hasrat tidak serta merta menjadikan kamu sukses seperti Bill Gates. Ada banyak yang harus dipertimbahkan sebelum membuat keputusan besar semacam itu. Sebagai contoh, Kent C. Dodds yang sempat menjadi insinyur perangkat lunak di PayPal memutuskan untuk fokus menjadi pengajar profesional. Beliau tidak serta-merta membanting stir. Perlu beberapa tahun sampai jumlah kapital yang dihasilkan dari mengajar lebih besar daripada penghasilannya sebagai insyinyur perangkat lunak di PayPal.

Mungkin dari situ saya bisa merancang rutinitas yang dapat membangkitkan “career capital” sebagaimana Muller menemukan gaya permainannya yang unik.

Jangan dengarkan kata Mario Puguh, eh, maksud saya Mario Teguh!

loading