Meskipun saya rupawan dan disukai banyak perempuan, saya termasuk orang yang rendah diri. Saya mencoba membuka diri dengan menghadiri acara semacam ini.

mozilla

Pukul 13:15, kereta berangkat dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Cawang. Sampai di sana pukul 14:05. Dari situ saya memesan ojek daring (online) berwarna hijau karya anak bangsa. Tanpa basa-basi, sang pengendara ojek bergegas mengantarkan saya ke Mozilla Community Space yang belum pernah saya kunjungi.

Diam belum tentu paham. Sang pengendara ojek kebingungan dengan rute perjalanan di Google Map. Beliau baru bersuara setelah setengah jam bolak-balik menyusuri Jalan Tol Cawang Grogol. Tidak ada yang bisa dilakukan beliau selain menghardik Google Map.

Salah rute memang hal yang cukup lazim bagi pengendara ojek daring yang kurang cekatan.

“Mas, patokannya di mana, yah?”, tanya si tua bangka.

Meskipun perjalanannya melelahkan dan menggoyahkan iman, saya berikan tip sebesar Rp. 20.000 dan satu bintang dari lima bintang yang ditampilkan di layar ponsel. Saya berterima kasih kepada beliau karena sudah ditemani bertamasya di kota yang tingkat polusinya sudah sangat mengkhawatirkan.


Sesampainya di sana, Pak István Szmozsánszky sudah menyelesaikan setengah presentasinya. Tidak ada praktik langsung pemrograman, hanya ulasan menarik tentang bagaimana Rust menggantikan C/C++ secara perlahan di mesin peramban (browser) Firefox. Rust dianggap lebih aman, namun performanya tidak kalah dengan hasil kompilasi program yang dibuat dengan bahasa C/C++. Pengembangan bahasa pemrograman Rust dibiayai Mozilla secara eksklusif.

Apakah Rust bisa dipakai untuk memanipulasi DOM dan Web API? Pak István bilang, “Ya!”

Saya sempat berasumsi bahwa hasil kompilasi Rust yang dijalankan di peramban (browser) akan berupa bahasa mesin, ternyata hanya alih bahasa ke kode JavaScript. Ini tidak jauh beda dengan Elm atau TypeScript.

Setelah mengikuti acara ini, saya jadi paham kenapa orang-orang di Mozilla bekerja dengan giat. Semua yang mereka lakukan semata-mata demi kemaslahatan umat. Apa saja yang selama ini saya lakukan?

Untuk kedepannya, saya akan tetap fokus ke JavaScript dan sesekali bermain dengan Rust jika saya khilaf atau kurang waras.

Berikut adalah rekaman presentasinya. Ingat, sayalah orang pertama yang bertanya meskipun tidak paham apa yang sebenarnya dibicarakan.

Kesimpulan dari acara ini adalah ketampanan jangan dijadikan alasan untuk tidak berbaur dengan orang lain. Malu bertanya, sesat di jalan!