Bayi usia lima bulan tergeletak sembarangan di atas tanah gembur.

Muncul dari kejauhan, sosok tinggi kurus menghampiri.

Dari bahasa yang keluar dari mulutnya sepertinya orang Persia.

Dari kejauhan, pria itu berteriak, “Tuhan sudah mati! Tuhan sudah mati!”

Diam-diam, bayi sial yang diletakkan sembarangan ibunya dibawa pergi sang Nabi palsu. Di masa depan, bayi ini akan menjadi pengikutnya. Dua hamba ketiadaan hidup bersama…

Jelas-jelas ini penculikan. Biarkan saja mereka pergi! Biar langit yang menentukan nasib mereka!

27 tahun berlalu, kini yang terlihat adalah pria kurus yang berjalan berdampingan dengan pria kurus lainnya. Apakah pria 27 tahun yang masih tanpa nama ini mengingat hamparan tanah gembur oranye di bawah mentari sore?

Dulu ia hanya menghisap jempol dengan asyiknya sebelum sang Nabi sialan membawanya ke jalan kebenaran.

Sang bayi tumbuh biasa saja dan kebetulan memahami berbagai pengetahuan berkat pergaulannya dengan orang-orang Yunani yang sama-sama gemar berkunjung ke tempat pelacuran.

Hawa nafsu sang bayi dewasa ternyata begitu besar…

Pelacuran? Zarathustra tidak melarang sang bayi dewasa berzina, berjudi, minum khamr, riba dan memperalat orang lain demi keuntungan pribadi. Sang Nabi palsu hanya melarang sang bayi dewasa untuk tidak menipu diri sendiri. Bagi Zarathustra, kebohongan adalah perampokan paling keji.

Zarathustra bersabda, “Berzinalah! Tiduri pelacur Mesir, Persia, Basrah, Romawi, hingga Ethiopia. Hamburkan harta hingga engkau sadar bahwa itu semua salah!”