Saya merasuki tubuh mereka, melihat tubuh saya dari bola mata mereka, merasakan perasaan jijik yang bergejolak di dada mereka. Pun demikian, mereka merasuki tubuh saya, melihat tubuh mereka dari bola mata saya, merasakan perasaan jijik yang bergejolak di dada saya.

Sekepal tumor kebencian telah melekat. Prasangka buruk yang mengada-ada, manifestasi dari ketololan bersama. Betapa memalukannya menjadi manusia.

Harvey Pekar mungkin telah tiada, tapi karyanya The Quitter masih tersimpan di tumpukan teratas buku-buku saya. Jika Slam Dunk dibaca saat semangat hidup meredup, The Quitter ibarat Surat Yasin yang dibaca ketika saya kehilangan sesuatu yang berharga. Contohnya keperjakaan.

Saya pernah punya kontak seorang PSK cantik bernama Kesya Oliver dari Craigslist. Beliau mantan pramugari keturuan Turki yang saya tidak tahu kenapa bisa terjerumus ke lembah gelap gulita pelacuran pelendiran penuh nista.

Alih-alih merogoh kocek sekitar Rp. 10.000.000, saya mulai berpikir, apa jadinya jika keperjakaan saya dihilangkan oleh seorang pelacur cantik mantan pramugari yang warna bibirnya lebih pretensius dari bibir Chiesa Serena, perempuan yang menginspirasi lahirnya “Sajak Kotoran Kerbau”. Berbeda dengan Kesya, dia perempuan baik-baik yang hanya sedikit lebih cantik dari kebanyakan perempuan di kantor lama saya. Hidungnya pesek dan rambutnya terurai sebahu menutupi lingkar payudaranya yang mungil. Selebihnya, tidak perlu disebutkan lagi.

Mbak Kesya mengirim beberapa pesan singkat, menanyai kepastian saya, kamar hotel bintang 4 yang dipesan dan sebagainya. Dia ternyata tidak memasang uang muka seperti bank penyedia KPR. Dia profesional yang pantang menerima bayaran sebelum konsumen puas. Dan juga,  beliau anti riba seperti saya. Mungkin kita bisa berdiskusi tentang  konsep “Baitul Mal” di kamar.

Saya sempat terpikir untuk berpura-pura menjadi wartawan investigasi agar Mbak Kesya tidak memandang saya sebagai pria hidung belang. Tujuannya hanya untuk berbincang-bincang, melakukan sedikit rangsangan di kemaluan saya, sebelum akhirnya saya melanjutkannya di kamar kostan dengan tangan kosong. Keperjakaan saya telah lama saya dedikasikan untuk wanita berhijab yang selaput daranya telah robek oleh suaminya yang jelek.

Sesampainya di hotel, hati ini berdebar membayangkan apa-apa yang akan terjadi. Saya yang belum pernah pacaran sudah seperti melompat kelas dari SD ke SMA. Usia saya 26 tahun dan keuangan saya membaik.

Sesampainya di kamar, saya berbegas menuju wastafel, membasuh wajah dan lengan sampai sikut seperti orang yang hendak berwudu. Satu kotak berlabel “Sutra” saya genggam dan dikeluarkanlah selembar polimer hidrokarbon yang akan menyelubungi roket yang siap meluncur ke kolong sempit berlendir penuh kenistaan. Oh Tuhan, Mamah, Bapak, maafkan Muhammad D. Ramadhan yang hina.

Mbak Kesya menekan bel, saya lihat melalui lubang pintu. Betapa harga memang tidak pernah bohong. Dia seperti bidadari lacur yang siap menjinakkan rudal karya ilmuwan gila Rusia.

“Mas, nomor aku yang itu gak perlu disimpen, aku mau ganti nomor,” kata beliau.

Dengan wajah mesum penuh kegugupan, saya hanya bilang, “Okeh teh, eh maksud saya Mbak.”

“Mau ngobrol-ngobrol dulu atau gimana ini, he he he,” lanjut beliau.

“Kita ngobrol dulu saja, he he he. Saya sebenarnya bukan mau melakukan itu dengan Mbak, saya hanya ingin survei karena Mbak pengguna Craigslist. Menurut Mbak, kenapa memilih Craigslist untuk mendapatkan client?” tanya saya dengan penuh kemunafikan.

“Aku pake Craigslist karena escort kebanyakan dapat client dari situ, aku sih ikut-ikut temen aja, he he he”, jawabnya dengan anggun.

“Mas, udah punya pasangan ya?” tanya beliau dengan genit.

“Belum. Belum siap dengan yang semacam itu. Belum ada yang mau,” jawab saya dengan penuh kepura-puraan.

“Masa sih? padahal kamu agak mirip Lee Minho loh, he he he,” jawab beliau.

Waktu itu saya tidak tahu siapa gerangan Lee Minho itu. Pernah dengar namanya namun tidak tahu seperti apa parasnya. Saya bertanya, “Lee Minho siapa?”. Kemudian beliau memperlihatkan hasil pencarian di Google lewat ponselnya. Alhasil, ternyata Lee Minho adalah artis Korea yang wajahnya tidak bisa dibilang jelek.

Di malam itu, entah kenapa saya merasa sangat ganteng.

Oborolan ringan di kamar begitu intensif sampai-sampai saya lupa tujuan dari semua itu. Saya melirik gaun putihnya dan lingkar payudaranya yang kentara. Saya nyalakan siaran di TV untuk meredam gesekan metafisis yang meraung-raung dan mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah “sana”. Beliau tidak beranjak sedikitpun.

Gaun putih tercerai-berai dan keajaiban pun muncul.

Sosok pelacur nista berubah menjadi Nissa Sabyan. Dia menyenandungkan lagu Opik berjudul “Satu Rindu” yang menceritakan seorang anak yang merindukan ibunya yang telah tiada.

Saat itu saya terbangun dari mimpi saya. Uang di rekening tidak berkurang sedikitpun.

Alhasil, saya membuka lembaran komik Slam Dunk kerena semangat hidup telah meredup.

Tamat sudah. Keperjakaanku masih utuh!