Saya punya semua kriteria untuk jadi korban perundungan (bullying). Apa lacur, sayalah yang kadang-kadang jadi perundung (bully) yang terlaknat. Saya kurus, kecil, lemah, bermata sipit (seperti keturunan Cina), hobi membaca komik, sok pintar meskipun bodoh, menjengkelkan, sering bolos, dan banyak gaya. Bagaimana mungkin saya tidak jadi korban bullying?

bully

Tulisan ini hanya menjawab fenomena yang gaduh di internet. Dari mahasiswa berkebutuhan khusus dari universitas swasta berkualitas busuk sampai anak-anak SMP norak yang keranjingan sinetron.

Percaya atau tidak, saat SMP saya pernah mengejek orang paling ditakuti di kelas (Wery Irawan) dengan menggambar babi yang di atasnya ada nama beliau. Teman-teman tertawa terbahak-bahak sementara saya diintimidasi olehnya karena ada kawan yang mengadu. Saya ketakutan dan memohon ampun. Sejak saat itu, kami jadi teman baik sampai sekarang. Cari saja “Weryy Ceperist Cinta Alam” di Facebook dan tanyakan sendiri.

Saya sering diejek tentu saja, tapi respon saya selalu humoris. Orang-orang yang hobi tawuran di kelas tidak pernah tersinggung dengan lawakan saya karena saya membalas ejekan mereka dengan humor jenaka. Bagi kawan-kawan di luar sana yang dijadikan target perundungan, jadilah humoris. Tertawakan apa yang mereka tertawakan, maka kalian akan mendapat simpati mereka dengan harga murah. Jangan jadi orang sensitif melodramatis yang mudah tersinggung seperti banci! Harga diri hanya ilusi! Semakin kalian lemah, semakin kasar mereka! Kata-kata hanya kata-kata sampai ada orang tolol yang menanggapinya secara personal. Kalian itu pintar, bukan?

Bawa pisau jika mereka mulai menindas secara fisik. Tusuk jika mereka menyentuh. Melindungi diri adalah bagian dari jihad. Di pengadilan, kamu yang akan menang! Di akhirat, kamu yang akan mendapat pahala!

Lanjut ke SMA. Teman-teman di sana jauh lebih beradab dan hampir tidak ada masalah yang signifikan. Hanya satu kejadian yang melibatkan atlet wushu teman saya dengan orang jelek bertubuh besar yang mengajak saya berkelahi. Apa ciri-ciri orang bertubuh besar yang nyalinya kecil? Dia akan memilih orang-orang yang lebih lemah untuk dijadikan lawan. Jelas saya agak ketakutan saat diajak berkelahi si jelek. Terakhir kali saya berkelahi itu saat SD! Jika ditantang main catur, saya berani!

Si jelek tersinggung dengan kelakuan saya dan tidak terima dengan sindiran saya yang menyentuh jiwanya yang lemah, padahal saya hanya menjawab ejekannya dengan cara yang lebih bijak. Bukan saya yang memulai.

Saya sadar tinju saya tidak akan mempan dan 100% saya yang akan kalah. Satu-satunya cara paling mudah adalah membawa pisau dapur dan mengancam dia secara psikis. Ini tidak jadi saya lakukan karena ada teman saya (si atlet wushu) yang tahu tentang kegaduhan ini.

Prediksi saya benar. Meski si atlet wushu tingginya hanya 165 cm dan tinggi si jelek 176 cm, si jelek hanya diam seribu bahasa saat diajak berkomunikasi. Masalah selesai tanpa ada pertumpahan darah maupun biaya ke pengadilan.

Untuk teman-teman yang jadi korban bullying, jangan melawan jika hanya ejekan omong kosong yang orang tolol pun bisa melakukannya. Diam itu emas. Jika mereka memukulmu, tusuk matanya dengan pensil. Jika mereka menarik tasmu, tendang kemaluannya, tusuk kemaluannya, ludahi wajahnya setelah itu. Jangan melempar tong sampah! Bunuh orang yang paling berpengaruh dan satu grup akan tercerai-berai!

Di pengadilan, kamu yang akan menang! Di akhirat, kamu yang akan mendapat pahala!