Sudah terlalu lama saya lembek dengan diri sendiri. Saya ingin menekuni hobi sebrutal Michael Natterer. Michael adalah pemilik toko buku yang memelihara proyek GIMP selama bertahun-tahun. Bisa dilihat di sini.

Tadi malam saya bermimpi kembali ke masa SMA. Meski di dalam mimpi, kekhawatiran saya terhadap UN sangat besar. Saking paniknya, saya menepuk-nepuk bahu sambil bersumpah akan menguasai seluruh bahan ajar tiga tahun masa studi hanya dalam satu tahun. Saya tidak pernah belajar di SMA dan kemungkinan lulus sangat kecil.

Perasaan berdebar ini berlanjut sampai akhirnya saya bangun dan tersadar bahwa saya sudah lulus dan secara finansial tidak bergantung lagi pada orang tua. Betapa leganya bisa melewati masa-masa suram itu meskipun hanya dalam mimpi.

Waktu itu keluarga saya dililit hutang karena kasus yang melibatkan kakak laki-laki saya (makanya saya emoh berhutang ke bank). Saya memilih berdiam di rumah selama satu tahun sambil membantu ibu saya menjaga kedai kami yang bertempat di dekat kampus D3 IPB. Banyak teman-teman SMA kuliah di sana. Selama menjaga kedai, saya sering mencuri pandang mahasiswi-mahasiswi IPB yang mampir makan.

Meskipun hidup malas-malasan, saya rajin membaca buku. Saya memaksakan diri membaca semua literatur dalam bahasa Inggris (kakak perempuan saya yang kedua menghadiahi kamus Oxford bajakan di ulang tahun saya yang ke-17). Dengan uang Rp. 5000, saya bisa mengunduh puluhan buku dan komik di Warung Internet terdekat. Saat itu kakak saya masih berpacaran dengan laki-laki mapan yang nantinya akan menjadi ayah bagi keponakan saya tercinta.

Setelah hutang keluarga kami lunas, ibu saya menjual semua aset kedai kami dan fokus dengan bisnis kue kering yang tidak terlalu menguras tenaga. Ibu saya lebih tertarik mengurus cucu daripada berlelah-lelahan mencari nafkah.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi, saya nekat melamar menjadi staf pemasaran di Plaza Telkom dan dengan ajaibnya diterima. Tidak bertahan lama, hanya satu hari.

Setelah sekian lama menganggur, saya nekat melamar menjadi staf pengajar honorer di SDN Pengadilan 5 Bogor untuk mata pelajaran komputer. Saya diterima dan bertahan lebih dari satu tahun dengan upah Rp. 600.000 per bulan. Dengan uang itu, saya rutin berlangganan majalah favorit.

2 tahun setelah lulus SMA adalah kesempatan terakhir saya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri. Saya ikut ujian PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) dan diterima di D3 Penerbitan/Jurnalistik. Biayanya cukup mahal untuk kantong saya yang tipis. Hanya bertahan 2 semester. Saya sering mengaku-ngaku menjadi mahasiswa UI jika bertemu teman-teman SMA di jalan. Saya benar-benar merasa rendah diri dengan intelektualitas saya. Tidak heran kalau sampai sekarang saya masih berlagak sok pintar.

Saya sempat kuliah di UNAS (Universitas Nasional) Jurusan Teknik Fisika atas saran paman saya (beliau lulusan sana juga). Lagi-lagi hanya bertahan singkat. Saya sudah muak dengan kehidupan kampus.

Di usia 21 tahun, saya kembali bekerja sebagai staf pengajar di tempat yang sama sebelum akhirnya diterima di majalah favorit sebagai penulis lepas. Bayarannya lumayan, Rp. 1.500.000 per bulan. Bos saya pernah bilang kalau saya berbakat menjadi penulis, tapi saya tahu dia berkata demikian untuk mempertahankan saya karena saya tidak menuntut upah banyak.

2014, majalah favorit saya bangkrut dan saya kembali menganggur. Di tahun yang sama, saya bercita-cita menjadi aktuaris dan mendaftar di Jurusan Matematika UT.

Dari 2014 sampai 2015, saya menjadi pekerja lepas, menulis konten untuk situs-situs yang tidak saya kenal. Bayarannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Di akhir tahun 2015, KMKLabs mengadakan pelatihan (Ruby on Rails dan Laravel) sekaligus mencari pengembang web untuk di tempatkan di proyek-proyek yang tidak membutuhkan keahlian rumit. Saya termasuk 10 orang beruntung yang diterima.

Di pertengahan tahun 2016, saya bekerja di tempat saya bekerja sekarang. Di sinilah pertama kali saya mengenal AJAX dan Promise. Selama bekerja di sini, saya menekuni pekerjaan saya sebagai hobi.

Sisanya tinggal sejarah.