Saya selalu kagum dengan orang ini sampai-sampai sering bertemu di dalam mimpi. Jangan salah paham. Ini bukan romansa.

respect!

Dia lulusan program Vokasi UI Jurusan Komunikasi. Tampangnya biasa-biasa saja seperti perempuan kebanyakan. Hidungnya pesek, rambutnya terurai sebahu jika tidak dikuncir, payudaranya tipis, dan tidak perlu disebutkan lagi. Makna “hobi” menurut saya semuanya diambil dari Denissa.

Di Bogor, jika ada orang yang hobi mengirim kartu pos ke luar negeri, nama dia yang pertama kali disebut. Dengan bahasa Inggris ala kadarnya, dia tidak malu mengiklankan Kota Bogor dan Indonesia ke belahan dunia lain. Tidak jarang dia mendapatkan pernak-pernik lucu bersama kartu pos balasan dari sahabat penanya di luar negeri. Hidupnya benar-benar menyenangkan.

Isi rumahnya dipenuhi burung, kucing, dan adik-adiknya yang telah beranjak remaja. Semuanya gaduh, tapi terdengar begitu harmonis. Bagaimana dia menghidupi mereka? Dia menjual kartu pos buatannya sendiri. Dengan kemampuan desain ala kadarnya, dia memanfaatkan jaringan pertemanannya sebagai lahan bisnis. Tidak prestisius, tapi menjanjikan.

Apa lagi? Dia penggemar berat Jorge Lorenzo. Semua keuntungan bisnisnya dihabiskan untuk menonton MotoGP di Malaysia dan Singapura. Jika ada acara menonton bersama MotoGP di kafe-kafe, dia yang paling gaduh di media sosial. Hidupnya benar-benar menyenangkan.

Terus terang, sebenarnya kami tidak begitu saling kenal, tapi kenapa bisa sampai sejauh ini?

Bagi saya, keberadaan saya adalah insiden kosmik yang sia-sia belaka. Untuk apa hidup ini? Menjadi terkenal? Menjadi kaya? Disukai banyak perempuan? Menyelamatkan dunia? Membasmi kejahatan? Semuanya begitu monoton. Semuanya adalah tema-tema membosankan ala novel remaja.

Adakah yang bisa memaknai keberadaan saya yang sia-sia ini? Hanya satu. Hobi.

Hobi adalah oksigen di dunia yang palsu ini di mana kemunafikan satu-satunya cara paling mudah untuk menghindari masalah.

Hobi adalah kegiatan suci selain ibadah kepada Tuhan. Burung-burung bertasbih kepada Tuhan sebagaimana saya menghabiskan waktu membaca buku filsafat di kamar.

Saya rela manghabiskan umur untuk hobi-hobi saya yang berharga.

Saya rela baradu tinju demi melindungi hobi-hobi saya yang berharga.

Apa kebutuhan pokok setelah pangan, sandang, dan papan? Waktu luang yang diisi dengan kegiatan yang kita cintai.

Terima kasih Denissa yang telah memperlihatkan sinar mentari setelah mendung yang seolah tidak mau pergi.

Harta yang paling berharga adalah keluarga dan hobi. Titik.