Sabda Nabi Muhammad Favorit Saya

Islam adalah agama mayoritas keluarga besar saya. Tidak heran kalau saya tahu kisah tragis Perang Uhud di mana Hamzah bin Abdul-Muththalib, paman Nabi, ditombak oleh budak suruhan Hindun binti Utbah yang sejak awal telah mengincar nyawanya. Perutnya dirobek dan hatinya dikunyah oleh Hindun sebagai bentuk pembalasan dendam atas kematian ayahnya di Perang Badar.

Di Perang Uhud, pasukan Nabi kalah akibat kecerobohan tentara muslim yang sibuk memungut harta rampasan perang karena terlalu dini merayakan kemenangan sehingga pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Khalid bin al-Walid menyerang balik tanpa perlawanan. Tidak ada kekalahan perang paling memukau selain ini.

Seperti Perang Uhud, dalam hidup, kita tidak boleh terlalu percaya diri dengan kemenangan di depan mata. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Sang Nabi sudah mengingatkan tentara muslim yang menjaga di bukit agar tidak beranjak sebelum diberi instruksi, namun nasihat beliau tidak digubris. Ketidaktaatan kepada pemimpinlah penyebab kekalahan Perang Uhud.

Dalam segala urusan, keteladanan Nabi harus dipertimbangkan karena ajaran-ajarannya sebagian besar praktis dan masuk akal. Saya tidak selalu setuju dengan beliau, tapi rasa hormat saya kepada beliau tidak perlu diragukan lagi. Meski demikian, masih banyak hal yang membingungkan dalam ajarannya, terutama yang berhubungan dengan takdir. Berikut adalah sabda Nabi favorit saya.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, “Rasulullah saw. menceritakan kepada kami dan beliau adalah ash-Shadiq al-Mashduq (yang benar lagi dibenarkan perkataannya).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah (zigot), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian seorang malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan ditetapkanlah empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta, namun suratan takdir mendahuluinya hingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, lalu ia pun masuk neraka. Ada pula di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak antara dia dengan neraka hanya sehasta, namun suratan takdir mendahuluinya hingga ia beramal dengan amalan ahli surga, lalu ia pun masuk surga.”

HR. al-Bukhari dan Muslim

Menurut saya, sabda di atas bertentangan dengan kehendak bebas yang katanya adalah nilai luhur kemanusiaan. Apakah diri ini hanya boneka yang tidak bisa melihat untaian tali yang ditarik ulur ke sana kemari tanpa bisa berbuat apa-apa? Buat apa saya sembahyang jika sejak dalam kandungan sudah ditakdirkan masuk neraka?

loading