Mely

Sampai saat ini perasaan koyak di dada masih terasa meskipun perempuan sialan ini sudah menikah.

Mely yang sebelah kiri.

Demi Tuhan, saya tidak kecewa. Saya tidak mengutuk pernikahan mereka sekotoran kuku sekalipun.

Saya ingat ketika dia duduk di tangga sendirian, tersenyum basa-basi sambil menyapa saya dengan sopan. Waktu itu semester baru dan sudah beberapa minggu kami tidak berjumpa. Saya meresponnya dengan angkuh demi menutupi perasaan gugup karena kasmaran.

Saya jatuh cinta.

Mely hanya perempuan biasa, dia tidak begitu cantik, sangat jauh bila dibandingkan dengan aktris porno favorit saya. Dia setahun lebih tua dan senior saya di kampus. Dia juga termasuk cewek populer di kalangan mahasiswa baru.

Ini jelas bukan hasrat seksual, perasaan berdebar ini sama seperti ketika saya memeluk atau mencium keponakan. Benar-benar tidak masuk akal.

Ada pengalaman menarik yang tidak mungkin dilupakan. Temannya sering bilang kalau wajah saya sekilas mirip dia. Pernahkah kamu mendapatkan pujian semanis itu? Kata-kata itu melambungkan badan saya sampai ke atap kampus. Belum pernah saya merasa seganteng itu.

Mungkin Mely tidak merasakan hal yang sama, lagi pula saya tidak berminat mendeklarasikan perasaan koyak ini. Ada banyak laki-laki santun untuk perempuan berhijab dari keluarga baik-baik seperti dia. Saya tidak akan keberatan.

Biarkan perasaan berdebar ini menguat seiring berjalannya waktu, sampai saat wajahmu berkeriput dan payudara mungilmu berubah bentuk seperti lipatan perut. Suatu saat pasti akan tumbuh cinta baru.

Dedikasi saya selama 10 tahun memendam perasaan ini sangat membantu mengasah kemampuan menulis saya. Terima kasih sayangku Mely.

Saya sayang kamu.

Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.

Dialah laki-laki jelek yang sekarang jadi suami kamu.

loading