Masa Depan Anak

Saya cukup emosional setelah membaca artikel ini, saya membayangkan keponakan-keponakan saya beranjak remaja dan tidak tahu apa yang ingin dilakukan di masa depan. Menjadi sosok orang dewasa yang dijadikan panutan oleh keponakan adalah opsi paling masuk akal bagi saya dalam memerankan peran seorang ayah.

Ayah saya PNS dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menjerumuskan anak-anaknya ke lembaga pemerintah. Hanya kakak laki-laki saya yang terpaksa menjadi PNS di usia 28 tahun setelah gagal lulus kuliah. Sekarang, impiannya sebagai pemusik profesional sudah tidak relevan lagi.

Sementara itu, kakak-kakak perempuan saya hidup berkecukupan bersama suami mereka masing-masing.

Saya tidak akan menyalahkan sistem karena bertolak belakang dengan ide bahwa “manusia memilih jalannya masing-masing dan Tuhan yang memberikan pilihan di setiap langkahnya”.

Bagi saya, untuk bisa memilih, anak-anak memerlukan alat untuk menunjang semua itu. Pendidikan dan Internet salah satunya.

Kita orang dewasa harus memberikan akses sebanyak-banyaknya ke semua bidang yang diminati anak-anak kita. Satu baris kalimat di mesin pencari Google sudah cukup untuk memberikan anak-anak kita kesempatan dalam memilih. Teruslah bombardir mereka dengan pilihan hingga suatu saat mereka menemukan jati diri mereka sendiri.

Sedini mungkin mereka sudah punya bayangan mau menjadi apa di masa depan.

Yang paling penting, pendidikan terbaik datang dari keluarga. Jadilah ayah yang baik, berhetilah menonton film porno, pelajarilah psikologi anak meskipun kita hanya seorang pekerja kasar. Bacalah, bacalah, demi anak-anak kita.

Saya akan terus menonton film porno karena saya tidak akan menjadi seorang ayah. Saya bersyukur punya ayah seperti ayah saya karena pilihan yang diberikan beliaulah saya bisa memilih untuk tidak menjadi seorang ayah.

Di masa depan akan ada robot seks yang bisa diprogram. Saya menabung dan belajar matematika di waktu senggang untuk mengantisipasi itu.

Menjadi ayah bukan urusan main-main.

Demikian.

loading