Lindswell Kwok

Sebenarnya dia tidak cantik. Biasa saja seperti perempuan Tionghoa kebanyakan.

Pada suatu pagi di hari Minggu, bukan kebiasaan saya membaca harian Kompas langganan bapak saya. Biasanya hanya sepintas melirik berita olahraga karena mungkin saya ketiduran saat menonton Liga Inggris.

Beberapa halaman sudah saya lipat ke belakang. Tidak terlalu menarik pagi itu. Saat saya hendak menarik diri karena bosan, beberapa helai halaman terjatuh. Saya mencoba merapikan lembaran itu dan tiba-tiba selembar halaman Kompas Sosialita menarik perhatian saya.

Seorang perempuan bermata sipit berwajah merah muda dengan kostum wushu berwarna merah muda sedang menyandarkan pedang lentur di bahu kanannya. Di sampingnya tulisan besar “Lompatan Lembut Lindswell” dengan latar belakang hitam. “Menarik!”, pikir saya dalam hati.

Minggu pagi, 13 April 2013, pertama kali saya melihatnya.

Saya langsung menarik halaman itu dan membawanya ke kamar. Berdebar. Paragraf demi paragraf sangat menarik, bahkan saya bisa merasakan sendiri betapa manisnya ia saat penulis artikel mengutip:

“Capek? Ha ha ha ha, saya sudah berlatih wushu sejak umur 9 tahun.”

Si penulis artikel sangat piawai mendeskripsikan kepribadian seseorang melalui tulisan. Contohnya:

“…matanya berbinar dan pipinya sedikit mengembung mengulum jawaban.”

Saya langsung jatuh cinta. Saya lipat halaman itu dan menyisipkannya ke kantung depan ransel, membawanya selama perjalanan menuju kampus atau ke tempat kerja.

Jika memungkinkan untuk membaca dan cukup sepi untuk mencium fotonya di halaman itu, saya tidak akan keberatan. Di rumah pun saya tidak pernah bosan membacanya berulang-ulang. Saya merasa seolah-olah sudah mengenalinya. Seharian, yang saya lakukan adalah duduk di depan komputer dan berselancar di internet karena selembar halaman dirasa tidak cukup memuaskan.

Melalui mesin pencari Google, beberapa halaman memuat fotonya di masa lalu. Tidak bisa dibilang cantik. Mungkin saat itu dia tidak terlalu ambil pusing dengan penampilannya atau memang saat remaja dia tidak cantik.

Saya juga kurang suka model rambut kuncirnya. Jidatnya yang lebar jadi terlihat signifikan. Kecuali, jika rambutnya diurai setinggi bahu dan menutupi sebagian jidatnya, dia akan terlihat manis dan mungil meski dia setahun lebih tua dari saya.

Kebanyakan fotonya seperti deskripsi paragraf di atas. Saya cukup puas dengan informasi dari beberapa blog berbahasa Inggris tentang kejuaraan yang pernah ia ikuti. Dia perempuan muda berprestasi.

Dia tidak aktif di media sosial. Saya sempat mengirim pesan yang tidak dibalas di Facebook. Agak mengecewakan. Tidak lama setelah itu, saya tidak sengaja menonton wawancaranya di televisi. Dia tidak secantik seperti yang saya harapkan. Agak mengecewakan.

Sejauh ini, sejak saat itu, perasaan berdebar kepadanya mulai memudar. Entahkah karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi atau karena faktor posisi dan pencahayaan membuat wajahnya melebar di kamera atau mungkin karena riasan tertentu atau memang seperti itu wajahnya jika disiarkan stasiun televisi berkualitas HD – Net TV. Saya tidak tahu. Yang pasti Lindswell yang saya kenal tidak seperti itu. Dia manis dan mungil.

Dengan perasaan kecewa, saya berusaha menghidupkan kesan tersebut dengan menciptakan tokoh imajiner yang mewakili segala karakteristik “Lindswell saya”. Sayang sekali, Kak Lindswell tidak semanis dan semungil foto pada halaman Kompas Sosialita yang masih terlipat di kantong depan ransel saya.

loading