Lara

Kejantanan saya mesti diuji jika saya bilang saya suka drama Korea. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.

Satu-satunya drama Korea yang saya suka adalah Full House. Indosiar pernah menayangkannya sekitar tahun 2005, masa di mana saya pertama kali merasakan ketertarikan seksual terhadap lawan jenis.

Saya ingat, saya suka drama ini karena pemeran utama wanitanya mirip sekali dengan adik suami kakak saya. Demi Tuhan, saya malu karena seenaknya menyukai adik suami kakak saya sendiri.

Tahun-tahun berlalu, saya hampir lupa pernah menonton drama ini. Hingga suatu ketika, saat masa-masa membosankan di kampus, teman berwajah kampungan mengajak saya menonton Full House di koridor.

Seketika, ingatan manis testosteron mendidih ke ubun-ubun dan mengembalikan hasrat saya tentang cinta. Cinta saya kepada Mely, Ayu, Lulu dan Fida semakin kuat karena drama Korea sinting kebanci-bancian ini.

Diam-diam saya mengunduh semua episodenya karena sudah terlanjur mengejek teman berwajah kampungan tadi. Wajar saja, tampang seperti tukang gorengan yang hobi menonton drama Korea memang meninggalkan selera buruk di mulut.

Sekadar info, adik suami kakak saya adalah mantan model, sekarang sudah berkeluarga dan dikaruniai dua anak perempuan. Satu-satunya momen yang mempertemukan saya dan dia adalah Idulfitri. Meski sudah kepala tiga, dia masih tetap cantik. Jika dilihat, kalian tidak akan percaya perempuan secantik ini sudah berkeluarga dan beranak-pinak.

Cinta yang dipendam akan selalu mencabik-cabik dari dalam. Begitu indah, namun menyakitkan.

Kembali lagi ke Mely, dia juga sudah menikah. Saya muak mengatakannya berkali-kali seolah saya kecewa dengan itu. Demi Allah, tidak! Saya hanya kasmaran karena diterpa rindu yang maha dahsyat.

Saya rindu melihatnya dari kejauhan sambil berpura-pura membaca komik The Quitter karya Harvey Pekar.

Saya rindu menciptakan skenario melankolis tentang dia yang hanya bisa terjadi di balik kelopak mata saya.

Saya rindu momen-momen bersamanya, di waktu gerimis, terpisah beberapa meja di belakangnya.

Sebagai pelipur lara, saya menonton Full House di YouTube sambil mengenang kembali masa-masa itu. Indah bukan main.

loading