Kisah Penistaan Agama dan Cinta

Laki-laki muda sedang menuju ke kediaman orang tuanya. Di tangannya melilit tali tambang yang mengikat domba betina berukuran sedang. Tidak ada yang aneh dengan laki-laki yang berjalan bersama domba.

Kedua orang tuanya sudah mengantisipasi kedatangannya, menunggu di teras depan rumah sambil menghabiskan waktu membalik-balik halaman koran. Tidak ada yang spesial.

Dua hari sebelumnya, laki-laki muda telah mengabari kedua orang tuanya perihal pernikahannya yang akan berlangsung akhir bulan ini. Sebuah keputusan mengejutkan dari laki-laki pemalu yang tidak pernah dekat dengan perempuan. Bahkan kedua orang tuanya sempat tidak percaya dengan berita itu. “Ayah, Bunda. Saya dan Melisa memutuskan untuk menikah,” demikian yang ia katakan di surat.

Setelah berbasa-basi menanyai kabar masing-masing, laki-laki muda masuk ke ruang tamu bersama domba yang dibawanya. Sang ibu keberatan dengan kehadiran domba di ruang tamunya, menegur putranya dengan halus. Namun kedua orang tuanya terkejut setelah putra mereka tersenyum sambil mengatakan:

“Bunda, perkenalkan ini Melisa, calon istri saya”

Seketika, sang ibu pingsan mendengar itu dan ayahnya hanya bisa terdiam. Awalnya sang ayah mengira lelucon anaknya keterlaluan. Beliau baru sadar kalau anaknya serius setelah ia memperlihatkan foto-foto pranikah bersama domba tersebut. Laki-laki muda itu menjelaskan bahwa pernikahannya akan menggunakan ritual Katolik, dibimbing oleh pastor berkebangsaan Belanda.

Sang ayah hanya bisa bersumpah serapah dan melaknat anaknya. Kunjungan tersebut berakhir dengan umpatan dan pengusiran tragis. Kondisi sang ibu memburuk sejak saat itu.

Meski tanpa restu, pernikahan mereka berlangsung khidmat. Celaan dari masyarakat tidak dihiraukan. Dia hanya pria dengan kecenderungan menyimpang.

Beberapa bulan berlalu, komunikasi dengan kedua orang tuanya tidak pernah terjalin meski mereka sering melihat wawancaranya di televisi. Sang ayah hanya bisa mengutuk anaknya di setiap salat Tahajud, meminta Tuhan agar menimpakan malapetaka kepada suami istri biadab tersebut.

Segala macam laknat telah tersampikan, sebagian doa sang ayah akhirnya didengar Tuhan.

Antraks menewaskan hewan-hewan ternak di seluruh kota. Laki-laki muda mulai khawatir dengan kesehatan istrinya. Sementara itu, sang ayah gembira mendengar laknat Tuhan semakin dekat.

Apa alasan seorang pria menikahi seekor domba? Apakah hanya sensasi murahan? Masyarakat mulai bertanya-tanya tentang fenomena ini. Kebanyakan mereka tidak mengerti dan tidak mau mengerti alasan di balik itu.

Doa sang ayah menyebar ke penjuru kota, masyarakat mulai kesulitan mendapatkan hewan ternak. Perekonomian surut dan konsumsi protein hewani menurun drastis. Hanya beberapa hewan ternak yang tersisa di kota itu termasuk istri si laki-laki muda.

Petinggi kota mulai berteori macam-macam, menyalahkan pernikahan antara manusia dan hewan sebagai penyebab laknat Tuhan. Akhirnya, pemuka agama mendeklarasikan pembunuhan suami istri biadab itu sebagai solusi paling kongkrit.

Rumah laki-laki muda dikepung massa, harta benda dari jerih payah sendiri diambil paksa orang-orang tidak bertanggung jawab. Semuanya habis tanpa sisa. Suami istri biadab hanya bisa termenung menunggu nasib mereka berakhir di tiang gantungan.

Pemuka agama mulai mengasah golok untuk menyembelih sang istri sebagai medium tolak bala, sementara sang suami telah dipersiapkan untuk digantung di pohon mahoni. Laki-laki muda berteriak memohon pengampunan.

Tanduk digenggam, golok diayunkan. Keajaiban pun muncul.

Domba putih berubah menjadi perempuan cantik tanpa busana. Pemuka agama langsung beranjak dari tubuh sang istri. Dia gugup karena penampakan semacam itu hanya bisa ia lihat di film porno favoritnya. Dialah Melisa, istri laki-laki muda yang malang.

Melisa mengaku kalau dia adalah bidadari yang dikirimkan Tuhan sebagai hadiah kepada si laki-laki muda karena telah memutuskan untuk tidak menikah dan tidak punya keturunan. Dia menjadi domba semata-mata untuk menguji cinta laki-laki yang ia sayangi.

Ternyata bukan doa sang ayah yang menyebabkan antraks membunuh hewan-hewan ternak. Pertumbuhan jumlah manusialah penyebabnya.

Setelah kejadian itu orang-orang mulai mengikuti program KB dan angka kelahiran di kota tersebut semakin menurun. Terjadi tren pemuda yang membujang karena mengharapkan bidadari dari Tuhan.

Tamat.

loading