Elvina

Dulu sering menyontek puisi, mengubahnya sedikit-sedikit, kemudian disimpan di ponsel.

Masa SMA benar-benar klasik.

2008, anak-anak SMA sudah terbiasa dengan jaringan 3G dan kamera di ponsel mereka (belum ada istilah tethering di masa itu). Saya masih menggunakan Nokia lawas yang biasa dipakai untuk mengganjal pintu. Meskipun norak dan jelek, ponsel saya bisa bertahan seharian tanpa isi ulang baterai. Canggih bukan main!

Satu-satunya kelemahan ponsel saya adalah kapasitas memori. Hanya puisi paling romantis yang berhak bersemayam di draf SMS, itu pun setelah menghapus obrolan-obrolan tidak penting dengan kawan-kawan.

Singkat cerita, waktu itu pernah pura-pura suka dengan perempuan manis bernama Upit semata-mata untuk menutupi perasaan saya kepada Elvina. Elvina sudah terlanjur jadi bahan lelucon teman sekelas karena rambutnya kasar dan berantakan seperti sikat. Saya bahkan memberinya julukan “Raja Singa”. Kata teman SMP-nya, rambutnya diluruskan dengan paksa karena dia malu dengan rambut setengah kribo alami miliknya. Selebihnya, dia cantik, mungil, putih, bersih dan rapi.

Saya malu mengungkapkan perasaan kepadanya karena takut jadi bahan lelucon teman sekelas. Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, saya ingin menampar diri saya versi 13 tahun yang lalu.

Puisi-puisi itu sebenarnya untuk Elvina, tapi saya tujukan kepada Upit karena dia perempuan idola di kelas sebelah. Hanya Yogi, sahabat saya yang mengetahui kumpulan puisi di ponsel butut ini. Yogi Febrianto adalah seniman di kelas, mahir berbagai alat musik, pencinta sastra dan wajahnya berminyak seperti tukang gorengan.

Yogi mengetahui berbagai rahasia saya karena dia teman berbincang yang asyik. Dia mengenal Upit, rumahnya dekat dengan dia dan mungkin punya perasaan kepadanya.

Entah karena merasa tersaingi, diam-diam dia mengirimkan puisi paling romantis kepada Upit menggunakan ponsel saya ketika ada acara menginap bersama kawan-kawan. Saya masih tertidur pulas setelah menonton film porno hasil patungan bersama.

Pagi harinya, saya mendapatkan kiriman SMS paling menggelikan dalam hidup saya:

Maaf aku udah punya pacar. Makasih puisinya, bagus kok 🙂

Berminat saja tidak, tapi sudah ditolak. Ironis!

loading