Bakmi GM dan Filsafat Eksistensialisme

Saya dan Jennifer berbagi panas dan karbon monoksida Kota Bogor hari ini. Bahkan 87 hektare vegetasi yang dirawat pemerintah Bogor/Belanda selama 230 tahun tidak mampu menyerap polusi angkot dan kendaraan bermotor kelas menengah sialan.

Tujuan dari perjalanan sederhana ini adalah untuk menikmati jerih payah selama satu bulan mencari nafkah. Saya hanya mengizinkan diri menghamburkan Rp. 200.000 dari dompet.

Dari rumah, saya melakukan pemanasan ringan untuk memastikan lutut kuat menempuh 7 km menuju Rodalink sebelum nantinya menikmati bakmi yang katanya mampu membuat orang lupa diri.

Di Rodalink, saya bertemu juru parkir yang sangat ramah. Beliau yang menjaga Jennifer selama saya melihat-lihat sepeda. Saya memutuskan membeli gembok seharga Rp. 65.000 agar Jennifer tidak dilecehkan orang yang tidak bertanggungjawab. Sebagai tanda terima kasih, saya berikan Rp. 3000 kepada juru parkir ramah tersebut. Saya lupa menanyakan nama, jadi saya panggil dia Steven. Uang tersisa Rp. 132.000.

Saya melanjutkan perjalanan ke arah Botani Square tempat Bakmi GM bersemayam. Kurang lebih 1 km ditempuh dari Rodalink.

Sesampainya di sana, saya harus meninggalkan Jennifer seorang diri karena pihak Botani Square tidak mengizinkan entitas seperti Jennifer berkeliaran di dalam. Dengan berat hati saya percayakan Jennifer kepada satpam bertampang cabul.

Di lantai 2, Bakmi GM dikerumuni orang-orang. Saya berasumsi bakmi ini memang nomor satu di kelasnya. Selama mengantri, saya diam-diam mencuri pandang perempuan berjilbab yang duduk bersama suaminya. Karena dia sangat cantik, saya mengutuk dalam hati pernikahan mereka berdua.

15 menit berlalu, akhirnya pesanan saya disajikan. Saya memesan pangsit goreng, bakmi goreng, es teh manis dan air mineral kemasan. Ini bakmi termahal yang pernah saya konsumsi. Meski menguras kantong, porsinya sepadan.

Saya kurang puas dengan kondisi tempat saya makan. Banyak obrolan tidak penting yang terpaksa saya dengar karena harus berbagi meja dengan orang lain. Sangat sulit mencari tempat duduk karena Bakmi GM ditempatkan bersama waralaba makanan siap saji lainnya seperti Yoshinoya. Saya hendak memarahi manajer Botani Square atas ketidaknyamanan ini, namun aroma bakmi goreng yang tercium dari dapur mencegah semua itu.

Kurang lebih Rp. 70.000 terkuras dari kantong. Meski demikian, saya dihadiahi kupon kuning yang nantinya bisa ditukarkan dengan hidangan yang disediakan Bakmi GM. Saya berjanji akan mengumpulkan stempel sebanyak mungkin agar bisa makan gratis di kemudian hari.

Secara keseluruhan, bakmi ini melampaui semua yang pernah saya makan. Saya benar-benar puas. Saya bahkan menggubah puisi untuk Mely dan Ayu karena terbawa perasaan. Dari 5 bintang, saya berikan 5 untuk Bakmi GM.

Piring sudah bersih tanpa sisa, waktunya meninggalkan orang-orang sialan yang berbagi meja dengan saya. Saya pergi dengan perasaan gembira sambil mengejek mereka dalam hati.

Setelah berkeliaran di Gramedia karena hujan deras, akhirnya saya bertemu kembali dengan Jennifer.

Jennifer dalam keadaan baik meski satpam bertampang cabul terlihat santai memainkan gantungan kunci. Saya mengutuk satpam cabul dan manajer Botani Square.

Saya bersyukur kepada Tuhan dan semesta karena diizinkan menikmati bakmi seenak ini. Saya berdoa agar pemilik Bakmi GM diberikan rezeki melimpah dan dilapangkan kuburnya. Amin.

loading