Aldi Taher: Tujuan Investasi dan Manajemen Keuangan

Aldi Taher sedang membaca Alquran.

Bukan bermaksud hati mendiskreditkan Aldi Taher semata-mata untuk ilustrasi belaka. Saya tidak akan seperti Kukuh di video ini:

Beliau sempat mengisi masa SMA saya lewat perannya di Tawa Sutra. Tak akan pernah melupakan jasa-jasa beliau.

Entah kenapa setiap saya ingin membeli barang-barang tersier yang mudaratnya lebih besar dari manfaatnya, wajah Aldi Taher selalu terbayang di benak saya. Saya takut kebiasaan menghamburkan uang di masa produktif membuat saya berakhir seperti beliau. Bukan tidak mungkin di masa depan saya akan melakukan hal-hal tolol seperti berjoget di depan kamera, mengemis di jalan, menjual ginjal, menjual tisu dengan pakaian lusuh demi meraih simpati kelas menengah sialan atau Baim Wong.

Demi mitigasi risiko seperti disampaikan paragraf di atas, berikut adalah cara saya mengelola dana untuk investasi. Kesadaran akan tujuan investasi sebagai mitigasi risiko banyak diambil selama saya bekerja di Stockbit. Anggap saja ini asuransi yang dikelola oleh kita sendiri dengan jumlah premi sesuai kehendak kita sendiri.

Strategi ini banyak diambil dari Pak Diskartes dan para suhu lainnya.

Pertama-tama, saya adalah orang yang malas berpikir. Saya ingin intuitif-impulsif memakai sistem limbik karena saya adalah investor goblok.

Mari saya jabarkan cara goblok saya mengelola keuangan.

Berikut pengeluaran saya yang terdiri dari:

  • Akomodasi (indekos dan token listrik).
  • Saldo GoPay untuk makan, jajan dan transportasi. Tidak boleh lebih dari Rp. 150.000 per hari meskipun sedang makmur.
  • Saldo OVO untuk galon, peralatan mandi dan kebutuhan sekunder lainnya.
  • Saldo Jenius/Bank Jago untuk biaya langganan kursus untuk mengasah keahlian yang insyaallah dicari-cari pengusaha kaya, muda dan gadungan. Juga, untuk membayar tagihan DigitalOcean, Namecheap, Netlify dan biaya produk digital lainnya.
  • Pajak Lahiran. Mengirim uang ke orang tua sebagai tanda terima kasih karena sudah dilahirkan di dunia yang bangsat ini.
  • Pajak NKRI. Berbagai bentuk birokrasi tahi kucing yang kompleks.

Setelah penghasilan dikurangi pengeluaran, maka sisanya adalah biaya perang melawan The Fed, IMF dan elit global. Tidak banyak tapi persentasenya relatif besar. Persentase ini akan saya jaga sebisa mungkin.

Layaknya tim sepak bola, portofolio saya dibagi dalam 4 posisi:

  • Kiper (Uang kas di Bank Mandiri)
  • Bek (Reksadana Pasar Uang dan Obligasi di Bibit)
  • Gelandang (Saham blue chip dan second-tier yang terdiri dari sektor perbankan, hiburan dan pangan di Stockbit)
  • Penyerang (Mata uang kripto di Binance)

Posisi kiper (uang kas di Bank Mandiri) tujuannya untuk mitigasi risiko bila ada teman-teman bangsat yang mengajak nongkrong di Starbucks atau restoran elit tempat orang-orang bangsat berkumpul. Saya lebih senang berkumpul di Gramedia, Mi Kocok SD Panaragan Bogor, Kebun Raya Bogor, coworking space murah, Bakmi GM, Bakso Apollo, Taman Kencana Bogor, Sabuga/Saraga ITB, kampus yang cewek-ceweknya lumayan (tidak melulu di UNPAD, ITB, ITHB atau UNPAR), Ayam Goreng Mang Donald, tempat ibadah berbagai macam agama kecuali Gereja Setan, selain markas Pemuda Pancasila, selain markas FPI, atau tidak sama sekali. Alhamdulillah, saya cuma punya sedikit teman-teman bangsat. Mayoritas teman-teman saya adalah orang-orang mapan dengan intelektualitas tinggi yang tidak menilai orang dari besar-kecil pengeluaran per bulan.

Posisi bek diisi oleh Reksa Dana Pasar Uang dan Obligasi. Bibit secara otomatis akan memilihkan porsi terbaik dari masing-masing reksa dana sesuai profil risiko. Sebagai karyawan biasa yang bekerja di bawah naungan Stockbit dan Bibit, saya bisa menjamin UI/UX aplikasi buatan teman-teman kantor saya ini dipikirkan dengan sangat baik sesuai kaidah atau tekanan rekomendasi dari aparat dengung (buzzer) pemberi pengaruh (influencer) di media sosial seperti Raditya Dika. Insyaallah, kami akan amanah dalam menjaga aset kalian yang tidak seberapa itu.

Posisi gelandang diisi oleh beberapa saham blue chip dan second-tier yang saya yakin kalian mengenalnya dengan baik seperti aroma alami ibu kalian sendiri. Saya percaya perbankan, hiburan dan pangan adalah sektor esensial yang dibutuhkan manusia sampai hari kiamat nanti. Terlebih, saya punya inklinasi terhadap sektor perbankan. Nabi Muhammad sendiri yang bilang kalau ada suatu masa di mana orang-orang terbiasa memakan riba dan orang-orang yang tidak memakannya akan terkena debunya. 3 sektor ini benar-benar menyentuh setiap lini masyarakat terlepas dari sosioekonomi bla bla bla ngalor ngidul supaya dianggap paham tentang saham. Daripada ribet, pilih saja 3 saham yang masih bertengger di LQ45 selama 10-15 tahun terakhir. Terserah dari sektor mana saja yang penting cari tahu dulu dengan detail seperti sedang ingin membeli laptop bekas. Jangan dengarkan kata hati apalagi Mario Teguh dalam memilih perusahaan yang akan membagi dividen setiap tahunnya. Goblok boleh tapi harus hati-hati.

Yang terakhir adalah mata uang kripto sebagai penyerang tunggal utama. Inilah Inzaghi saya. Tidak banyak bacot, tidak banyak gocek, tidak banyak tedeng aling-aling, tapi profitnya luar biasa. Sempat menganggap diri ini jenius karena beberapa kali untung sekian persen tapi tersadar bahwa semua ini adalah “THE GREATEST PONZI SCHEME I WILL EVER KNOW”. Tumpukan kotoran bedebah yang puncaknya dipantati oleh 1% orang kaya di bumi. Pada dasarnya semua aset itu Skema Ponzi, tapi ini parah sekali. Pokoknya jadikan elit global sebagai kompas. Mau ke mana dunia ini dibawa oleh Yang Mulia Rothschild?

Untuk formasi, terkadang saya menitikberatkan pada pertahanan seperti Morinho. Kadang maju, serbu, serang, terjang dan akhirnya rugi juga. Tidak apa, yang penting saya punya kerangka dalam meramu strategi investasi. Saya suka 4-4-2, 4-3-3, 5-3-2 dan kalau sedang semangat bisa 3-3-4 merangkap 3-5-2.

Begitulah strategi investasi saya. Tidak bermanfaat, ya? Ya sudah, maaf.

loading